..balikpapan..

..balikpapan..
..so beautiful..

Rabu, 09 Mei 2012

..TENTOEA'S TREE..

JACOB TENTOEA

WEIS
     01. Gustaf Tentoea
              ?
        02.  Oya Tentoea
              ?
        03. Magda Tentoea
             ?
       04. Johan Tentoea
             ?
       05. Willy Tentoea
             ?
       06. Jan Piet Clas Tentoea
             ?
       07. Bertha Tentoea
             ?
       08. Netty Tentoea
             ?
       09. Frans Tentoea
             ?
       10. Ema Tentoea
             ?
       11. Victor Emanuel Tentoea
             Suwarti Susanna
       12. Ida Tentoea
             ?


01. Gustaf Tentoea
      ?



02. Oya Tentoea
      ?



03. Magda Tentoea
      ?



04. Johan Tentoea
      ?



05. Willy Tentoea
      ?



06. Jan Piet Clas Tentoea
      ?



07. Bertha Tentoea
      ?



08. Netty Tentoea
      ?



09. Frans Tentoea
      ?



10. Ema Tentoea
      ?



11. Victor Emanuel Tentoea
      Suwarti Susanna



     ===> Fauziah Mirnaningsih Tentoea, Makassar,06.06.1939
               Haji Muhamad Hasan Basri, Jakarta,03.06.1937-Jakarta,24.11.1992
                   

                   




          --> Branjangan Tirta Yudha Utama Basri, Plaju,25.06.1965
                Diana Anggraeni Manawi, Makasar,27.01.1969
                 - Tiara Noor Utami, Cilacap,03.01.1997
                 - Muhammad Kresna Atthariqh, Cilacap,03.06.1998
   



                              


          --> Anggraini Dwita Viscaya, Plaju,18.04.1967
                Chadri Jurnalis,
                - Andika Rahmana, Jakarta,18.10.1996
                - Amarsyah R,
                - Alkahfi R,
                - Shan,

 



                    






















          --> Ayoe Tria Siti Cahyani Basri, Rantau,05.08.1970
                - Muhamad Kandripa Ardya Pradana, Jakarta,03.10.2003


              


      
        


























        
          --> Maulana Sadikin Basri, Rantau,28.04.1972
                 Dewi Ratih Pingkan Febbyana, 24.02.1978
                 - Shania Natisya Hana, 07.08.1998
                 - Atthalah Nararya Adisya, Jakarta,02.06.2009

























        
          --> Muhamad Iskandar, 17.06.1976-Jakarta,16.09.1998

          --> Muhamad Akbar, Jakarta,02.11.1977




     ===> Farida Rosalinda Tentoea, Makassar,09.09.1940
               Sri Rahadi, Solo,17.10.1934-Jakarta,02.11.2002

          --> Peter Kristiawan Bayu Rajendra, Jakarta,25.04.1965
                Pinkan Valentini Florencia, 04.07.1969
                - Yehezkiel Petrova Putra Rahadi, Jakarta,25.07.1994
                - Abigael Rosandrin Putri Rahadi, Jakarta














                 
       


         -->  Lukas Christiawan Indrawardaya Rahadi, Plaju,02.05.1967
                 Made Shinta Andayani, 01.04.1969
                 - Gede Rama Bagaskara
                 - Made Ayu Priskilla Larasati, Jakarta,01.04.2002

          --> Julie Christine Chandra Hapsari Rahadi, Plaju,02.07.1969
                Abertus Puji Harcahyo, Jakarta,16.06.1965
                - Brigitta Septevanya Sri Prameswari, Jakarta,18.09.1997
                - Benedicta Virginia Sri Janastri, Jakarta,24.01.1999
                - Bianca Valeria Sri Wulandari, Depok,14.02.2010



















   
   
     ===> Surya Pengkey Tentoea, Makassar, 13.06.1945
               Ida Mahida,

          --> Nocky

          --> Marco
                ?
                - Rara










    

               






  
   
     ===> Maria Antinette Tentoea, Tarakan,09.10.1947
               George Kakisina,

          --> Gloria Kakisina, Jakarta 23.10.1976



















        
        
          --> Gideon Kakisina, Jakarta,25.09
                 Fredericka, 20.06
                 - Carlson Keeanu Vionoel Kakisina, Jakarta,06.08.2011



















        
        
        
          --> Gillian Kakisina, 19.12.1982
                 - Amira
                 - Abiza


 



















   


    ===> Victor Emanuel Tentoea, Tarakan,10.08.1949
               Chlartje Danhilda Natari, Balikpapan,17.02.1953

          --> Suzan Fransisca Emanoela Tentoea, Balikpapan,11.10.1975
                - Alexis Julynatharya Emanuel Gregorianne Tentoea, Bandung,23.07.1995
                - Bernadhette Novtasha Thessalonichan Gregorianna Tentoea, Jakarta,03.11.1996
                - Celynch Alexandra Jasmine Gregorian Diaz Tentoea, Bandung,27.11.1999































                   




          --> Monty Abraham Benyamin Tentoea, Balikpapan,19.03.1981



===> Gustaf Jacob Oswaid Tentoea, Tarakan,31.08.1956-Jakarta,20.05.2007
          Leliyanti Suryana (Bong Kim Nyong), Sungai Liat,18.09.1951


          
          --> Gustaf George Valentino Tentoea, Ambon,11.05.1976
                 Elisabeth Agustina Sitorus, 02.08.1977
                 - Bryan Tentoea, Surabaya,26.02.2009



















        
        
          --> Victor Daniel Oswald Tentoea, Ambon,25.06.1979
                 Reny Rahayu, Jakarta,11.04.1979
                 - Rahel Laras Monique Tentoea, Jogjakarta,20.02.1999
                 - Raimee Jelove Priscillia Tentoea, Bekasi,28.03.2010































              


   
  


     ===> Yohana Cornelia Tentoea, Tarakan,31.05.1954
               Constantijn Joseph Martinus Hukom, BAlikpapan,18.06.1949-Jakarta,26.07.2004

          --> Raka Aldytho Viostra Hukom, Balikpapan,28.06.1980
                Elfine Virnansih, Jakarta,02.09.1980
                - Rafael Agranaya Zelig Hukom, Jakarta,17.06.2006
                - Nathaniel Arkhananta Yukio Hukom, Bogor,17.09.2009

























                    



        
          --> Rangga Alvyno Constantyn Hukom, Balikpapan,26.02.1983


                    
--> Ragil Almoundo Herodian Hukom, Balikpapan,19.01.1986

 





















12. Ida Tentoea

..PESAN TERAKHIR SEORANG IBU..cerita dari maluku


Kisah ini bermula di daerah Maluku Utara, tepatnya di daerahTobelo. Beratus tahun yang lalu di suatu rumah yang berdindingkan daun rumbia diamlah satu keluarga. Sang ayah seorang nelayan yang siang dan malam hidupnya di atas lautan, mempertaruhkan nyawa untuk menghidupkan anak istrinya. Sang ibu adalah wanita setia dan sangat bijaksana. Mereka memiliki dua orang anak. Yang sulung anak perempuan bernama O Bia Moloku. Kecantikannya melebihi kecantikan ibunya. Sedangkan adiknya yang laki-laki bernama O Bia Mokara. la ganteng, dan berperawakan mirip ayahnya.

Pada suatu hari ayah mereka pergi melaut dan seperti biasa sebelum ayah mereka bertolak ke laut, tak lupa ditinggalkannya makanan dan telur ikan pepayana di rurnahya. Beberapa hari setelah kepergian ayahnya melaut, ibunya pergi ke kebun. Sebelum ibunya pergi ia berpesan kepada kedua anaknya. “Hai anak-anakku, jangan kamu makan telur ikan yang ditinggalkan ayahmu ini. Apabila kamu rnemakannya akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan”. Ibunya berkata dengan sungguh-sungguh tetapi mereka berdua hanya tertawa saja. Setelah ibunya selesai memberi nasihat maka pergilah ibunya ke kebun. Kira-kira tigajam berlalu, adiknya, O Bia Mokara, merasa lapar. Dimintanya makanan dan telur ikan. Kakaknya, O Bia. Moloku, tak rnau memberikan permintaan adiknya. Adiknya menangis tersedu-sedu tetapi O Bia Moloku tetap tidak mau memberikan telur ikan itu, Semakin lama semakin keras saja tangisan adiknya. Akhirnya O Bia Moloku tak tega melihat adiknya menangis terus-menerus, dan telur ikan itu segera diberikan kepada adiknya. Sambil tertawa adiknya memakan telur ikan itu dengan lahapnya. Setelah memakan telur itu sampai habis, beberapa sisa telur ikan itu melekat pada gigi adiknya.

Tak lama kemudian ibunya kembali dari kebun membawa singkoNg, pepaya, dan sayur-sayuran. Setelah selesai membersihkan badannya, ibunya pun menggendong O Bia Mokara dan ia segera menyusukan si O Bia Mokara.
Setelah itu, ibunya menyanyi sambil menari sambil menggendong O Bia Mokara yang tertawa gembira karena sangat senang berada dalam pelukan ibunya yang sangat didambakannya.
Namun, tiba-tiba ayunan mesra ibunya dikejutkan dengan terlihatnya, sisa telur ikan yang melekat pada gigi O Bia Mokara. Suasana sukacita segera berubah menjadi keheningan yang mendalam. Ibunya tertegun sebentar, sekujur badannya menjadi dingin gemetar dan marah sekali kepada kedua anaknya. Amarah ibunya tak dapat ditekan lagi. la segera melepaskan O Bia Mokara dan segera melarikan diri menyusuri pesisir pantai. Sambil menggendong O Bia Mokara yang menangis terus, O Bia Moloku mengejar ibunya sambil memanggil-manggil ibunya. “Mama, Mama, O Bia Mokara menangis terus, Mama!”
Namun, panggilannya hanya dijawab oleh mamanya. “Peras saja daun katang-katang, ada air susunya!”

Setelah tiga kali O Bia Moloku memberikan airsusu dari daun katang-katang kepada adiknya, ibunya pun menerjunkan diri ke iaut.
Sementara menyelam ia menemukan sebuah batu yang timbul di permukaan air. Naiklah ibunya ke atas batu itu dan berkata, “Terbukalah agar aku dapat masuk”.
Batu itu terbuka, lalu ibunya pun masuk ke dalam batu itu. Dengan segera ia pun berteriak, “Tutuplah”, maka batu itu pun tertutup selama-lamanya tanpa berbekas.

Setelah tiga kali O Bia Moloku memberikan airsusu dari daun katang-katang kepada adiknya, ibunya pun menerjunkan diri ke iaut.
Sementara menyelam ia menemukan sebuah batu yang timbul di permukaan air. Naiklah ibunya ke atas batu itu dan berkata, “Terbukalah agar aku dapat masuk”.
Batu itu terbuka, lalu ibunya pun masuk ke dalam batu itu. Dengan segera ia pun berteriak, “Tutuplah”, maka batu itu pun tertutup selama-lamanya tanpa berbekas.

..PETUAH SEORANG INDIAN..





Anak ku..
Tak seorang pun akan menolongmu di dunia ini
Maka jelajahilah puncak-puncak gunung itu, dan kembalilah
Hanya itu yang akan dapat membuatmu perkasa

Anak ku..
Ketahuilah bahwa tak seorangpun di dunia ini yang dapat kau sebut sebagai sahabat sejati
Tidak juga ayahmu, ibumu, bahkan saudara-saudaramu.
Tanganmu adalah sahabatmu
Kakimu adalah sahabatmu
Rambutmu adalah sahabatmu
Pandanganmu adalah sahabatmu

Suatu kali kau harus menghadapi seseorang yang menganggapmu musuh
Saat kau berhadapan dengan mereka, kau hanya perlu merasa berani berada tepat di depan wajahnya
Kau harus siap bahwa mungkin ia akan merasa sakit atau menang.
Saat itu kau harus percayalah bahwa sesungguhnya keberanian bukanlah masalah menang atau kalah

Suatu kali pula kau akan berada di tengah mereka yang menderita
Jangan pernah terlambat untuk membantu mereka melebihi dari segala kemampuan yang kau miliki

Kita tak pernah tau, bahwa mungkin saja kemanapun kau pergi, alam akan mendengar mereka bercerita sebuah kisah tentang dirimu

Oleh karena itu, aku berkata padamu
“Pilihlah jalan terjal mendaki itu, tapi bukan jalan yang nyaman ini”

(kutipan dari “Going to The Mountain“)

..PELA..

Pela adalah suatu sistem hubungan sosial yang dikenal dalam masyarakat Maluku berupa suatu perjanjianNegri (kampung) dengan kampung lainnya yang biasanya berada di pulau lain dan kadang juga menganut agama lain di Maluku, biasanya satu Negri memiliki satu atau dua Pela. Sistem perjanjian ini diperkirakan telah dikenal sebelum kedatangan bangsa Eropa ke Maluku, dan digunakan untuk memperkuat pertahanan terhadap bangsa Eropa pada waktu itu. hubungan antara satu




 Arti kata Pela

Pela berasal dari kata Pila yang berarti buatlah sesuatu untuk kita bersama, dan kadang-kadang kata Pila diberi akhiran "TU" sehingga menjadi Pilatu yang artinya menguatkan, menamankan atau mengusahakan sesuatu benda tidak mudah rusak atau pecah. Kini kata "Pila" telah berubah menjadi "Pela".
Yang sangat menarik dari Pela ini ialah kenyataan bahwa di MALUKU TENGAH hubungan Pela ini bukan saja terjadi antara negeri yang manganut agama yang sama, tetapi terjadi juga diantara negeri yang berlainan agama. Misalnya hubungan Pela antara negeri:
·        TITAWAI (Kristen) di Nusalaut dengan PELAU (Islam) di pulau Haruku.
·        TUHAHA (Kristen) di Saparua dengan ROHOMONI (Islam) di pulau Haruku.
·        HUTUMURY (Kristen) di jasirah Leitimur dengan TAMILOUW di Seram Selatan. 

Ini adalah berberapa contoh saja yang di kemukakan diantara puluhan contoh yang dapat disebutkan satu demi satu.
Ada juga yang mengartikan atau berpendapat bahwa Pela itu berasal dari kata Pela artinya saudara/sahabat yang dapat dikatagorikan sebagai suatu panggilan bagi kaum pendatang dari Jawa, Bugis, Makasar, Mandar, Buton dll yang menjajaki barang-barang dagangnya ke Maluku yang akhirnya kata Pela itu berkembang menjadi saudara yang dikasihi yang disamakan dengan GANDONG.



Peraturan dalam Pela

Pela dianggap sebagai suatu ikatan persaudaraan antara semua penduduk antar kedua atau lebih Negri yang bersangkutan dan dianggap suci. Ada empat dasar Pela yang harus dipatuhi antara lain:
  1. Negri-Negri yang berpela berkewajiban untuk saling membantu pada masa genting (bencana alam, peperangan dll.)
  2. Jika diminta, maka Negri yang satu wajib memberi bantuan kepada Negri lain yang hendak melaksanakan proyek-proyek demi kepentingan kesejahteraan umum, seperti pembanguanan rumah-rumah Gereja, Masjid dan sekolah
  3. Bila seorang mengunjungi Negri yang berpela dengan Negrinya, maka orang-orang di negeri itu wajib untuk memberi makanan kepadanya, tamu yang sepela itu tidak perlu meminta izin untuk membawa pulang apa-apa dari hasil tanah atau buah-buahan menurut kesukaannya
  4. Semua penduduk negeri-Negri yang saling berhubungan Pela itu dianggap sedarah sehingga dua orang yang sepela tidak boleh kawin. Pelanggaran terhadap aturan ini akan dihukum keras oleh nenek moyang yang mengikrarkan Pela itu berupa kutukan seperti sakit, mati dan kesusahan lain yang ditujukan kepada Pelanggar maupun anak-anaknya. Pada masa lalu, mereka yang melanggar pantangan kawin tersebut ditangkap dan disuruh berjalan mengelilingi Negri-Negrinya dengan hanya berpakaian daun-daun kelapa dan dicaci maki oleh penghuni Negri

Latar belakang terjadinya Pela
 
Menurut sejarah dan kenyataan terjadinya Pela itu berbeda satu dengan yang lainnya tetapi tujuannya tetap sama yakni " BEKERJA SAMA UNTUK KEPENTINGAN BERSAMA".
Berberapa alasan terjadinya hubungan Pela adalah:
·      Hubungan Pela sebagai balas jasa dari negeri yang satu kepada negeri yang lain yang pernah membantunya baik dalam lapangan politik (perperangan) maupun dalam lapangan sosiaal (bencana alam, pertolongan di laut dll).
·      Hubungan Pela sebab ada hubungan persaudaraan antara negeri yang bersangkutan menurut cerita dari datuk-datuk mereka bahwa mereka adalah saudara kandung. Contoh: Rumahkay dan Rutong.
·      Hubungan Pela sebab terjadinya hal-hal yang luar biasa seperti negeri Latuhalat di tanjung Nusaniwe dan Alang di tanjung Alang yang disebabkan karena kasih cinta. 

Hubungan Pela di Maluku di bedakan dalam berberapa hal/peristiwa yang mengawalinya, jadi semakin besar peristiwa yang mengawali semakin keras sifat dari Pela tersebut.
Menurut Dr Frank Leonard Cooley dalam disertasinya yang berjdudul "Altar and throne in Central Moluccan Societies" halaman 261 menyatakan " Pela as it is found at present in Moluccan societies is an institutionalized bond of friendship or brotherhood between all native residents of two or more villages, which bond was established by the ancestors under particular circumstances and carries specific and privileges for the parties thus bound together". Menurut pendapatnya bahwa Pela ini diterbentuk dalam abad XVI di Maluku.


Jenis-jenis Pela

Pada prinsipnya dikenal tiga jenis Pela yaitu Pela Karas (Keras), Pela Gandong (Kandung) atau Bongso (Bungsu) dan Pela Tampa Siri (Tempat Sirih).
  1. Pela Karas adalah sumpah yang diikrarkan antara dua Negri (kampung) atau lebih karena terjadinya suatu peristiwa yang sangat penting dan biasanya berhubungan dengan peperangan antara lain seperti pengorbanan, akhir perang yang tidak menentu (tak ada yang menang atau kalah perang), atau adanya bantuan-bantuan khusus dari satu Negri kepada Negri lain. Pela ini disebut Pela sejati karena menurut anggapan pihak-pihak yang berkepentingan hubungan Pela ini diikrarkan bersama berdasarkan sesuatu perjanjian yang kemudian diperkuat dengan angkat sumpah. Dalam perjanjian itu ditetapkan antara lain:
          ·        Pela harus membantu Pela dalam segala kesukaran dan kesusahan.
          ·        Pela harus menempati janji yang pernah diucapkan terhadap Pela.
          ·        Pela tidak boleh kawin dengan Pela.

  1. Pela Gandong atau Bongso ( Pela Adik-kaka atau Pela Saudara ) didasarkan pada ikatan darah atau keturunan untuk menjaga hubungan antara kerabat keluarga yang berada di Negri atau pulau yang berbeda.
  1. Pela Tampa Siri diadakan setelah suatu peristiwa yang tidak begitu penting berlangsung, seperti memulihkan damai kembali sehabis suatu insiden kecil atau bila satu Negri telah berjasa kepada Negri lain. Jenis Pela ini juga biasanya ditetapkan untuk memperlancar hubungan perdagangan.
     4. Pela Minum Darah ini disebut Pela perang.

    5. Pela Darah

    6. Pela Batu Karang

    7. Pela Kawin

Pela Karas dan Pela Gandong ditetapkan oleh sumpah yang sangat mengikat dan biasanya disertai dengan kutukan untuk Pelanggaran terhadap perjanjian Pela ini. Sumpah dilakukan dengan mencampur tuak dengan darah yang diambil dari tubuh pemimpin kedua pihak kemudian diminum oleh kedua pihak tersebut setelah senjata-sejata dan alat-alat perang lain dicelupkan kedalamnya. Alat-alat tersebut nantinya digunakan untuk melawan dan membunuh siapapun yang melanggar perjanjian. Penukaran darah memeteraikan persaudaraan itu. Pela Tampa Siri dilakukan tanpa sumpah dengan menukar dan mengunyah Sirih bersama. Pela Tampa Siri merupakan suatu perjanjian persahabatan sehingga perkawinan antar pihak yang terkait diperbolehkan dan tolong menolong lebih bersifat sukarela tanpa ada ancaman hukuman nenek moyang.

DIETER BARTELS dalam disertanya untuk mencapai gelar Doktor pada Cornel University Amerika Serikat tahun 1977 lebih banyak mengungkapkan tentang hal tersebut diatas serta hubungan Pela di daerah Maluku. Menurut beliau: "Pela is one of the specialties Ambonese communities in other parts of Indonesia maintain with their homeland". 

Ada beberapa negeri yang mempunyai hubungan PELA sesuai Katagori diatas:
* Pela Keras / Pela Tuni:                    Ameth-Soahuku- Kariu-Booi-Aboru-Hualoi
* Pela Tempat Sirih / Angkat Sumpah    Tihulale- Hukuanakota-Kaibobo- 12 desa di gunung Seram
* Pela Perang / Pela Minum Darah        Tuhaha-Rohomoni, Hatuhaha-Tuhaha
* Pela Batu Karang:                           Batumera- Passo, Oma Ullath
* Pela Adik-Kakak / Saudara                     Hutumuri-Sirisori-Tamilouw
* Pela Kawin:                                               Alang-Latuhalat, Hitu -Latuhalat

Ada pula yang disebabkan karena GENELOGICAL BONDS antara lain PELA GANDONG seperti: 
Kulur-Oma, Rumahkai-Rutong, Hukurila-Kilang, Ema-Naku.
Sala satu pela yang sangat mengikat umat Kristen dan Islam yaitu Pela: Ambalau- Nusalaut.



Panas Pela

Untuk menjaga kelestariannya maka pada waktu-waktu tertentu diadakan upacara bersama yang disebut "panas Pela" antara kedua Negri yang berpela. Upacara ini dilakukan dengan berkumpul selama satu minggu di salah satu Negri untuk merayakan hubungan dan kadang-kadang memperbaharui sumpahnya. biasanya upacara panas Pela diramaikan dengan pertunjukan menyanyi dan tarian.



Pelestarian Pela

Sistem Pela sampai saat ini masih berperan penting terutama di daerah Maluku Tengah. Karena rasa persatuan dan identitas bersama disadari dan dihayati dengan kuat upacara-upacara pembaharuan Pela (panas Pela) masih sering berlangsung. Sejak Perang Dunia II sejumlah Pela baru, kebanyakan Pela Tampa Siri ditetapkan sebagian besar antara Negri-Negri Islam dan Kristen sebagai usaha diadakan dengan sadar untuk menguatkan hubungan antara dua golongan itu. Dapat dikatakan bahwa berkat sistem Pela itu, pertentangan antara kaum Muslim dan Kristen yang terjadi pada tahun 1998-2002 dapat diredakan.

..LEGENDA PESUT MAHAKAM..cerita dari Kal-Tim..



Di Kalimanatan Timur terdapat sebuah sungai yang terkenal yaitu Sungai Mahakam. Di sungai tersebut terdapat ikan yang sangat khas bentuknya yaitu Pesut Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) adalah lumba-lumba air tawar Indonesia. Tubuh tegap, sirip punggung kecil & segitiga serta kepala bulat/tumpul dgn mata yg kecil. Tergolong lumba-lumba kecil, dgn panjang dewasa 2,0 – 2,75 m, bayi pesut 1,0 m. Pesut tdk terlalu aktif, terkadang melompat rendah). Sebenarnya pesut bukanlah ikan tetapi mamalia air sebagaimana Lumba-lumba dan Paus. Menurut penduduk sekitar sungai tersebut Pesut bukanlah sembarang ikan tetapi adalah jelmaan manusia.


Ceritanya pada jaman dahulu kala di rantau Mahakam, terdapat sebuah dusun yang didiami oleh beberapa keluarga. Mata pencaharian mereka kebanyakan adalah sebagai petani maupun nelayan. Setiap tahun setelah musim panen, penduduk dusun tersebut biasanya mengadakan pesta adat yang diisi dengan beraneka macam pertunjukan ketangkasan dan kesenian.

Ditengah masyarakat yang tinggal di dusun tersebut, terdapat suatu keluarga yang hidup rukun dan damai dalam sebuah pondok yang sederhana. Mereka terdiri dari sepasang suami-istri dan dua orang putra dan putri. Kebutuhan hidup mereka tidak terlalu sukar untuk dipenuhi karena mereka memiliki kebun yang ditanami berbagai jenis buah-buahan dan sayur-sayuran. Begitu pula segala macam kesulitan dapat diatasi dengan cara yang
bijaksana, sehingga mereka hidup dengan bahagia selama bertahun-tahun.

Pada suatu ketika, sang ibu terserang oleh suatu penyakit. Walau telah diobati oleh beberapa orang tabib, namun sakit sang ibu tak kunjung sembuh pula hingga akhirnya ia meninggal dunia. Sepeninggal sang ibu, kehidupan keluarga ini mulai tak terurus lagi. Mereka larut dalam kesedihan yang mendalam karena kehilangan orang yang sangat mereka cintai. Sang ayah menjadi pendiam dan pemurung, sementara kedua anaknya selalu diliputi rasa bingung, tak tahu apa yang mesti dilakukan. Keadaan rumah dan kebun mereka kini sudah tak terawat lagi. Beberapa sesepuh desa telah mencoba menasehati sang ayah agar tidak larut dalam kesedihan, namun nasehat-nasehat mereka tak dapat memberikan perubahan padanya. Keadaan ini berlangsung cukup lama.

Suatu hari di dusun tersebut kembali diadakan pesta adat panen. Berbagai pertunjukan dan hiburan kembali digelar. Dalam suatu pertunjukan ketangkasan, terdapatlah seorang gadis yang cantik dan mempesona sehingga selalu mendapat sambutan pemuda-pemuda dusun tersebut bila ia beraksi. Mendengar berita yang demikian itu, tergugah juga hati sang ayah untuk turut menyaksikan bagaimana kehebatan pertunjukan yang begitu dipuji-puji penduduk dusun hingga banyak pemuda yang tergila-gila dibuatnya.

Malam itu adalah malam ketujuh dari acara keramaian yang dilangsungkan. Perlahan-lahan sang ayah berjalan mendekati tempat pertunjukan dimana gadis itu akan bermain. Sengaja ia berdiri di depan agar dapat dengan jelas menyaksikan permainan serta wajah sang gadis. Akhirnya pertunjukan pun dimulai. Berbeda dengan penonton lainnya, sang ayah tidak banyak tertawa geli atau memuji-muji penampilan sang gadis. Walau demikian sekali-sekali ada juga sang ayah tersenyum kecil. Sang gadis melemparkan senyum manisnya kepada para penonton yang memujinya maupun yang menggodanya. Suatu saat, akhirnya bertemu jua pandangan antara si gadis dan sang ayah tadi. Kejadian ini berulang beberapa kali, dan tidak lah diperkirakan sama sekali kiranya bahwa terjalin rasa cinta antara sang gadis dengan sang ayah dari dua orang anak tersebut.

Demikianlah keadaannya, atas persetujuan kedua belah pihak dan restu dari para sesepuh maka dilangsungkanlah pernikahan antara mereka setelah pesta adat di dusun tersebut usai. Dan berakhir pula lah kemuraman keluarga tersebut, kini mulailah mereka menyusun hidup baru. Mereka mulai mengerjakan kegiatan-kegiatan yang dahulunya tidak mereka usahakan lagi. Sang ayah kembali rajin berladang dengan dibantu kedua anaknya, sementara sang ibu tiri tinggal di rumah menyiapkan makanan bagi mereka sekeluarga. Begitulah seterusnya sampai berbulan-bulan lamanya hingga kehidupan mereka cerah kembali.

Dalam keadaan yang demikian, tidak lah diduga sama sekali ternyata sang ibu baru tersebut lama kelamaan memiliki sifat yang kurang baik terhadap kedua anak tirinya. Kedua anak itu baru diberi makan setelah ada sisa makanan dari ayahnya. Sang ayah hanya dapat memaklumi perbuatan istrinya itu, tak dapat berbuat apa-apa karena dia sangat mencintainya. Akhirnya, seluruh rumah tangga diatur dan berada ditangan sang istri muda yang serakah tersebut. Kedua orang anak tirinya disuruh bekerja keras setiap hari tanpa mengenal lelah dan bahkan disuruh mengerjakan hal-hal yang diluar kemampuan mereka.

Pada suatu ketika, sang ibu tiri telah membuat suatu rencana jahat. Ia menyuruh kedua anak tirinya untuk mencari kayu bakar di
hutan.

“Kalian berdua hari ini harus mencari kayu bakar lagi!” perintah sang ibu, “Jumlahnya harus tiga kali lebih banyak dari yang kalian peroleh kemarin. Dan ingat! Jangan pulang sebelum kayunya banyak dikumpulkan. Mengerti?!”

“Tapi, Bu…” jawab anak lelakinya, “Untuk apa kayu sebanyak itu…? Kayu yang ada saja masih cukup banyak. Nanti kalau sudah hampir habis, barulah kami mencarinya lagi…”

“Apa?! Kalian sudah berani membantah ya?! Nanti kulaporkan ke ayahmu bahwa kalian
pemalas! Ayo, berangkat sekarang juga!!” kata si ibu tiri dengan marahnya.

Anak tirinya yang perempuan kemudian menarik tangan kakaknya untuk segera pergi. Ia tahu bahwa ayahnya telah dipengaruhi sang ibu tiri, jadi sia-sia saja untuk membantah karena tetap akan dipersalahkan jua. Setelah membawa beberapa perlengkapan, berangkatlah mereka menuju hutan. Hingga senja menjelang, kayu yang dikumpulkan belum mencukupi seperti yang diminta ibu tiri mereka. Terpaksa lah mereka harus bermalam di hutan dalam sebuah bekas pondok seseorang agar dapat meneruskan pekerjaan mereka esok harinya. Hampir tengah malam barulah mereka dapat terlelap walau rasa lapar masih membelit perut mereka.
Esok paginya, mereka pun mulai mengumpulkan kayu sebanyak-banyaknya. Menjelang tengah hari, rasa lapar pun tak tertahankan lagi, akhirnya mereka tergeletak di tanah selama beberapa saat. Dan tanpa mereka ketahui, seorang kakek tua datang menghampiri mereka.

“Apa yang kalian lakukan disini, anak-anak?!” tanya kakek itu kepada mereka.
Kedua anak yang malang tersebut lalu menceritakan semuanya, termasuk tingkah ibu tiri mereka dan keadaan mereka yang belum makan nasi sejak kemarin hingga rasanya tak sanggup lagi untuk meneruskan pekerjaan.

“Kalau begitu…, pergilah kalian ke arah sana.” kata si kakek sambil menunjuk ke arah rimbunan belukar, “Disitu banyak terdapat pohon buah-buahan. Makanlah sepuas-puasnya sampai kenyang. Tapi ingat, janganlah dicari lagi esok harinya karena akan sia-sia saja. Pergilah sekarang juga!”

Sambil mengucapkan terima kasih, kedua kakak beradik tersebut bergegas menuju ke tempat yang dimaksud. Ternyata benar apa yang diucapkan kakek tadi, disana banyak terdapat beraneka macam pohon buah-buahan. Buah durian, nangka, cempedak, wanyi, mangga dan pepaya yang telah masak tampak berserakan di tanah. Buah-buahan lain seperti pisang, rambutan dan kelapa gading nampak bergantungan di pohonnya. Mereka kemudian memakan buah-buahan tersebut hingga kenyang dan badan terasa segar kembali. Setelah beristirahat beberapa saat, mereka dapat kembali melanjutkan pekerjaan mengumpulkan kayu hingga sesuai dengan yang diminta sang ibu tiri.

Menjelang sore, sedikit demi sedikit kayu yang jumlahnya banyak itu berhasil diangsur semuanya ke rumah. Mereka kemudian menyusun kayu-kayu tersebut tanpa memperhatikan keadaan rumah. Setelah tuntas, barulah mereka naik ke rumah untuk melapor kepada sang ibu tiri, namun alangkah terkejutnya mereka ketika melihat isi rumah yang telah kosong melompong.

Ternyata ayah dan ibu tiri mereka telah pergi meninggalkan rumah itu. Seluruh harta benda didalam rumah tersebut telah habis dibawa serta, ini berarti mereka pergi dan tak akan kembali lagi ke rumah itu. Kedua kakak beradik yang malang itu kemudian menangis sejadi-jadinya. Mendengar tangisan keduanya, berdatanganlah tetangga sekitarnya untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi. Mereka terkejut setelah mengetahui bahwa kedua ayah dan ibu tiri anak-anak tersebut telah pindah secara diam-diam.

Esok harinya, kedua anak tersebut bersikeras untuk mencari orangtuanya. Mereka memberitahukan rencana tersebut kepada tetangga terdekat. Beberapa tetangga yang iba kemudian menukar kayu bakar dengan bekal bahan makanan bagi perjalanan kedua anak itu. Menjelang tengah hari, berangkatlah keduanya mencari ayah dan ibu tiri mereka.

Telah dua hari mereka berjalan namun orangtua mereka belum juga dijumpai, sementara perbekalan makanan sudah habis. Pada hari yang ketiga, sampailah mereka di suatu daerah yang berbukit dan tampaklah oleh mereka asap api mengepul di kejauhan. Mereka segera menuju ke arah tempat itu sekedar bertanya kepada penghuninya barangkali mengetahui atau melihat kedua orangtua mereka.

Mereka akhirnya menjumpai sebuah pondok yang sudah reot. Tampak seorang kakek tua sedang duduk-duduk didepan pondok tersebut. Kedua kakak beradik itu lalu memberi hormat kepada sang kakek tua dan memberi salam.

“Dari mana kalian ini? Apa maksud kalian hingga datang ke tempat saya yang jauh terpencil ini?” tanya sang kakek sambil sesekali terbatuk-batuk kecil.

“Maaf, Tok.” kata si anak lelaki, “Kami ini sedang mencari kedua urangtua kami. Apakah Datok pernah melihat seorang laki-laki dan seorang perempuan yang masih muda lewat disini?”

Sang kakek terdiam sebentar sambil mengernyitkan keningnya, tampaknya ia sedang berusaha keras untuk mengingat-ingat sesuatu.
“Hmmm…, beberapa hari yang lalu memang ada sepasang suami-istri yang datang kesini.” kata si kakek kemudian, “Mereka banyak sekali membawa barang. Apakah mereka itu yang kalian cari?”

“Tak salah lagi, Tok.” kata anak lelaki itu dengan gembira, “Mereka pasti urangtuha kami! Ke arah mana mereka pergi, Tok?”

“Waktu itu mereka meminjam perahuku untuk menyeberangi sungai. Mereka bilang, mereka ingin menetap diseberang sana dan hendak membuat sebuah pondok dan perkebunan baru. Cobalah kalian cari di seberang sana.”
“Terima kasih, Tok…” kata si anak sulung tersebut, “Tapi…, bisakah Datok mengantarkan kami ke seberang sungai?”

“Datok ni dah tuha… mana kuat lagi untuk mendayung perahu!” kata si kakek sambil terkekeh, “Kalau kalian ingin menyusul mereka, pakai sajalah perahuku yang ada ditepi sungai itu.”

Kakak beradik itu pun memberanikan diri untuk membawa perahu si kakek. Mereka berjanji akan mengembalikan perahu tersebut jika telah berhasil menemukan kedua orangtua mereka. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka lalu menaiki perahu dan mendayungnya menuju ke seberang. Keduanya lupa akan rasa lapar yang membelit perut mereka karena rasa gembira setelah mengetahui keberadaan orangtua mereka.

Akhirnya mereka sampai di seberang dan menambatkan perahu tersebut dalam sebuah anak sungai. Setelah dua hari lamanya berjalan dengan perut kosong, barulah mereka menemui ujung sebuah dusun yang jarang sekali penduduknya.

Tampaklah oleh mereka sebuah pondok yang kelihatannya baru dibangun. Perlahan-lahan mereka mendekati pondok itu. Dengan perasaan cemas dan ragu si kakak menaiki tangga dan memanggil-manggil penghuninya, sementara si adik berjalan mengitari pondok hingga ia menemukan jemuran pakaian yang ada di belakang pondok. Ia pun teringat pada baju ayahnya yang pernah dijahitnya karena sobek terkait duri, setelah didekatinya maka yakinlah ia bahwa itu memang baju ayahnya. Segera ia berlari menghampiri kakaknya sambil menunjukkan baju sang ayah yang ditemukannya di belakang. Tanpa pikir panjang lagi mereka pun memasuki pondok dan ternyata pondok tersebut memang berisi barang-barang milik ayah mereka.

Rupanya orangtua mereka terburu-buru pergi, sehingga di dapur masih ada periuk yang diletakkan diatas api yang masih menyala. Di dalam periuk tersebut ada nasi yang telah menjadi bubur. Karena lapar, si kakak akhirnya melahap nasi bubur yang masih panas tersebut sepuas-puasnya. Adiknya yang baru menyusul ke dapur menjadi terkejut melihat apa yang sedang dikerjakan kakaknya, segera ia menyambar periuk yang isinya tinggal sedikit itu. Karena takut tidak kebagian, ia langsung melahap nasi bubur tersebut sekaligus dengan periuknya.

Karena bubur yang dimakan tersebut masih panas maka suhu badan mereka pun menjadi naik tak terhingga. Dalam keadaan tak karuan demikian, keduanya berlari kesana kemari hendak mencari sungai. Setiap pohon pisang yang mereka temui di kiri-kanan jalan menuju sungai, secara bergantian mereka peluk sehingga pohon pisang tersebut menjadi layu. Begitu mereka tiba di tepi sungai, segeralah mereka terjun ke dalamnya. Hampir bersamaan dengan itu, penghuni pondok yang memang benar adalah orangtua kedua anak yang malang itu terheran-heran ketika melihat banyak pohon pisang di sekitar pondok mereka menjadi layu dan hangus.

Namun mereka sangat terkejut ketika masuk kedalam pondok dan mejumpai sebuah bungkusan dan dua buah mandau kepunyaan kedua anaknya. Sang istri terus memeriksa isi pondok hingga ke dapur, dan dia tak menemukan lagi periuk yang tadi ditinggalkannya. Ia kemudian melaporkan hal itu kepada suaminya. Mereka kemudian bergegas turun dari pondok dan mengikuti jalan menuju sungai yang di kiri-kanannya banyak terdapat pohon pisang yang telah layu dan hangus.

Sesampainya di tepi sungai, terlihatlah oleh mereka dua makhluk yang bergerak kesana kemari didalam air sambil menyemburkan air dari kepalanya. Pikiran sang suami teringat pada rentetan kejadian yang mungkin sekali ada hubungannya dengan keluarga. Ia terperanjat karena tiba-tiba istrinya sudah tidak ada disampingnya. Rupanya ia menghilang secara gaib. Kini sadarlah sang suami bahwa istrinya bukanlah keturunan manusia biasa. Semenjak perkawinan mereka, sang istri memang tidak pernah mau menceritakan asal usulnya.

Tak lama berselang, penduduk desa datang berbondong-bondong ke tepi sungai untuk menyaksikan keanehan yang baru saja terjadi. Dua ekor ikan yang kepalanya mirip dengan kepala manusia sedang bergerak kesana kemari ditengah sungai sambil sekali-sekali muncul di permukaan dan menyemburkan air dari kepalanya. Masyarakat yang berada di tempat itu memperkirakan bahwa air semburan kedua makhluk tersebut panas sehingga dapat menyebabkan ikan-ikan kecil mati jika terkena semburannya.

Oleh masyarakat Kutai, ikan yang menyembur-nyemburkan air itu dinamakan ikan Pasut atau Pesut. Sementara masyarakat di pedalaman Mahakam menamakannya ikan Bawoi.